Home » , » Rindu Nafas Ramadhan

Rindu Nafas Ramadhan

Written By Unknown on Jumat, 11 Juli 2014 | 03.09


Biim… Bimm..
Bel mobil dan kendaraan lainnya terus bersahutan di tengah kemacetan jalanan yang mulai meremang. Aku melirik lagi jam tangan di pergelangan tangan kiriku dengan tetap fokus mengemudikan mobilku. Masih sekitar 15 menit sebelum adzan maghrib berkumandang. Apabila jalanan lancar 20 menit dapat aku tempuh sampai rumah, terlambat 5 menit untuk dapat buka bersama anak istriku di istana mungilku. Tapi kini di depanku masih rapi berbaris mobil-mobil yang mulai tak sabar terus memencet belnya menimbulkan suara yang membuat kepala pening. Ahh butuh lebih dari setengah jam untuk keluar dari kemacetan ini. Terbayang wajah keluargaku yang pasti sudah menunggu di rumah. Aku sudah berjanji pada Fadli dan Fara, kedua anakku untuk buka puasa bersama di rumah di hari pertama Ramadhan tahun ini. Ah pertama memang selalu yang istimewa. Tapi karena pekerjaan kantor yang seperti tiada habisnya meski sudah ngebut aku mengerjakannya membuatku tak bisa pulang lebih awal dari biasanya.
Allahu akbar Allahu akbar..
Adzan maghrib mulai berkumandang dan aku masih berada di tengah padatnya kendaraan. Kubuka sebotol air mineral yang tadi kubeli pada pedagang asongan yang melintas di antara padatnya jalanan.  Alhamdulillah, lumayan untuk pembatal puasa. Adzan maghrib selesai berkumandang bertepatan dengan keluarnya aku dari kemacetan. Kupacu mobilku dengan cepat, berharap masih ada sedikit sisa waktu berbuka di rumah.
***
Nafas Ramadhan beberapa tahun terakhir tak sesejuk nafas Ramadhan masa kecilku. Aku merasa nafas Ramadhan kali ini kering. Semua terlewat begitu saja. Semua orang beraktivitas seperti hari biasanya. Karyawan tetap ke kantor seperti biasa, pelajar tetap sekolah seperti biasa. Tak ada lagi tradisi penyambutan Ramadhan yang meriah. Masa kecilku di sebuah kampung yang jauh dari keramaian bersama anak-anak kampung lainnya. Sehari menjelang Ramadhan warga kampung beramai-ramai membersihkan masjid untuk persiapan tarawih. Anak-anak beramai-ramai melakukan tradisi ‘padusan’ dan membuat petasan dari bambu untuk bermain malam nanti.  Para ibu sibuk mempersiapkan takjilan dan saling berbagi resep untuk menu sahur pertama. Bulan ramadhan menjadi sangat spesial bagi kami. Menjelang sore kami beramai-ramai pergi ke surau untuk sholat maghrib. Begitu salam pertama kami sudah bersiap-siap untuk berlari. Selesai sholat maghrib kami berkumpul di lapangan menyalakan petasan. Adzan isya’ mengakhiri permainan petasan kami. Kami kembali ke surau dan bersiap menerima omelan dari para tetua. Setelah sholat baiknya berdoa dulu tidak langsung pergi bermain. Jangan menyalakan petasan karena itu berbahaya dan nasehat lainnya yang hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Setiap hari. Toh mereka membiarkan kami begitu meskipun kami tiap hari melakukannya. Menginjak dewasa aku baru tahu bahwa itu merupakan salah satu cara menarik agar kami selalu ke surau dan selalu bersemangat melewati hari-hari di bulan Ramadhan. Sholat tarawih dan tadarus menjadi kebiasaan yang tidak lagi memberatkan.
Sahur pertama menjadi hal yang ditunggu-tunggu. Sekitar jam 2 dini hari kami berkumpul di surau kemudian bersama-sama berkeliling kampung membangunkan warga untuk sahur. Meskipun hampir semua warga sudah bangun sebenarnya. Kami berkeliling sambil memukul kentongan. Bahkan ada juga yang membawa perkakas dapur. Selesai berkeliling kampung kami kembali ke rumah masing-masing untuk sahur. Begitu sampai di meja makan menu spesial yang pasti lain dari menu sehari-hari sudah tersaji. Inilah berkah ramadhan bagi kami. Kesempatan untuk makan enak. Daging ayam dan telur menjadi menu wajib dan kami bebas mengambil sesuka hati. Padahal ketika hari biasa menu ayam pasti akan dijatah porsinya. Selesai sahur kami pergi ke surau. Sekedar bercerita menu sahur pertama atau bermain petak umpet menunggu waktu adzan subuh tiba. Selesai subuh kami tak langsung pulang. Hari-hari di bulan Ramadhan menjadi hari-hari permainan kami. Sekolah diliburkan sebulan penuh selama Ramadhan. Ahh menyenangkan sekali. Menjelang siang kami baru pulang ke rumah masing-masing. Setelah Dhuhur menjadi jadwal tidur siang kami.
Sebelum adzan Ashar kami sudah bangun kemudian bersiap mandi. Begitu adzan Ashar berkumandang kami pergi lagi ke surau membawa kitab Al-Qur’an.  Selesai Ashar kami belajar mengaji bersama Mbah Kaji. Beliau orang yang sangat menyenangkan. Ketika kami bosan mengaji beliau dapat menarik perhatian kami dengan cerita-ceritanya. Gaya beliau ketika bercerita mengenai perjuangan Nabi Muhammad meyebarkan Islam, kisah para khulafaur Rasyidin, ketika Umar bin Khattab dengan kedua tangannya membawakan makanan untuk rakyatnya yang kelaparan sampai harus merebus batu, keberanian dan keperkasaan Khalid bin Walid di medan perang dan kisah-kisah para sahabat lainnya membuat kami sangat menantikan cerita Mbah Kaji. Menjelang waktu berbuka tiba para ibu bergantian membuatkan takjilan. Kami berkumpul membentuk lingkaran kemudian berdo’a bersama. Begitu adzan maghrib berkumandang kami berebutan mengambil takjilan dan berlomba menghabiskannya. Terkadang menu berbuka kami sangat sederhana. Hanya nasi putih dengan sayur urap dan tempe goreng. Tapi kebersamaan kami lah yang membuat menu berbuka kami istimewa.
***
“Assalamu’alaikum.. “, kudapati istriku sudah menungguku di depan pintu,
“Wa’alaikum salam, mas sudah sholat??” Tanya istriku
“Belum, Fadli dan Fara mana?? Sudah sholat belum??” berondongku.
“Belum mas, itu masih menunggumu untuk sholat berjamaah”, jawabnya
Kami pun sholat berjamaan kemudian melanjutkan berbuka puasa.
“Maafkan ayah tidak bisa sampai rumah tepat waktu”, kataku sambil memandang kedua buah hatiku.
“Ayah sudah janji bakalan buka puasa pertama di rumah. Tahun lalu ayah sudah tidak buka puasa pertama di rumah”, tuntut Fadli anak pertamaku.
“Iya ayah salah, ayah minta maaf. Tadi pekerjaan ayah menumpuk. Jadi tidak bisa pulang lebih awal dari biasanya. Trus tadi jalanan juga macet”, kataku lagi.
“Iya yah gak papa, kan kita masih bisa makan bareng”, jawab Fara si kecil. Ah dia memang sangat pengertian.
Kesibukanku kini membuatku tak dapat berbagi kebersamaan di setiap buka puasa selama Ramadhan mereka. Aku rindu suasana Ramadhan masa kecilku. Kini tak ada lagi anak-anak berbondong-bondong pergi ke masjid. Tak ada lagi semangat Ramadhan yang terpancar dari hati kaum muslimin. Masjid-masjid tak lagi seramai dulu. Meski bertambah beberapa shaf dari hari biasa tapi tidak lagi membludak. Dulu halaman masjid pun digelar tikar untuk sholat tarawih. Momen buka puasa memang dimanfaatkan untuk berkumpul bersama namun tidak dilanjutkan dengan beribadah bersama. Tapi untuk pergi nongkrong bersama.
Aku malu mendapati diriku sendiri masih terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga tak lagi memiliki waktu khusus menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Aku rindu, rindu dengan sejuknya nafas Ramadhan masa kecilku.




Kartasura, 01 Juni 2014 M          
                  03 Ramadhan 1436 H
 
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. It's My Story Life.. - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger